YANG TERCECER DARI KEGIATAN BKSN 2026 : BELAJAR DARI KERASULAN MATEUS
Gereja St. Ignatius Loyola
Pukul 15:28 WIB
Minggu 26 September 2026 sebanyak 33 umat lingkungan St. Skolastika
Karangmojo melaksanakan kegiatan BKSN di di Rumah Studi SMA Kolese De Brito yang
berlokasi Turi, Sleman. Kegiatan ini merupakan rangkaian pertemuan BKSN minggu ke
III dan ke IV, yang dilaksanakan dari jam 09.00 s/d jam 15.00 wib. Umat berangkat
bersama-sama menggunakan 6 kendaraan pada pukul 07.45 wib dan tiba di lokasi
pada jam 09.00 WIB.
Pada pertemuan sesi I (09.30 s/d 11.45 wib) umat
didampingi oleh Frater Kefas Raditya SJ (dari Kolosani). Mengingat pada 4
(empat) pertemuan BKSN tahun ini kita
mengambil sumber dari Injil Mateus, oleh karenanya Frater Kefas memaparkan
pemuridan Mateus (penulis Injil dan salah satu murid Yesus). Mateus Adalah seorang
pemungut cukai/pajak di Kapernaum (tentu saja seorang
yang terpelajar pada jaman itu) dan bekerja untuk pemerintah Romawi atau Raja Herodes Antipas. Sebagai
pemungut pajak, Mateus dibenci
oleh bangsa Yahudi dan dianggap sebagai pengkhianat serta orang berdosa, tetapi
Yesus memanggilnya seperti pada kutipan ini :
“Setelah Yesus pergi dari
situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai,
lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun bangkit dan mengikut
Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut
cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid
Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang
berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan
tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang
Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan
untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)
Mateus dipanggil
sebagai murid adalah inisiatif Yesus, kemudian Matius mengikuti Dia, tinggal bersama, belajar
mendengarkan, saksi mata atas pelayanan,
kebangkitan, hingga kenaikan Yesus, dan pada akhirnya diutus. Mateus
menulis Injil dan memberitakan kesaksian bahwa
Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
Mengambil contoh dari pemuridan Mateus, ada 2 (dua) pertanyaan bagi kita semua yang telah dibabtis dipanggil Yesus untuk menjadi muridnya. Pertama, apakah kita tinggal bersama Yesus dan belajar mendengarkan Dia? Kedua, apakah kita yang diutus sudah menjadi saksi dalam hidup kita sehari hari ?
Pada pertemuan sesi II (setelah makan siang) permenungan diisi dengan
sharing iman oleh umat, terutama menyangkut tinggal dalam Yesus. Sharing
dipimpin oleh Mas Y. Setyo Yuntoro. Tinggal dalam Dia berarti penyerahan
diri, diri (keakuan) ditinggalkan dan menjadi seperti anak kecil yang
tergantung dan percaya. Damai sukacita bukan karena melihat mukjizat, bukan karena mempunyai
kekayaan, berhasil, berkuasa namun
karena tinggal dalam Dia yang hidup.
Mengikuti Yesus berarti diri yang diserahkan, hidup tanpa diri, hidup
tanpa tempat bersandar di dunia, bukan mencari nyaman, aman. Diri selalu ingin
benar, menjelaskan, membela diri, menuntut, berbantah, memahami semua, ingin
diperlakukan baik. Diri yang telah memilih diserahkan dan menyerah bukan berarti putus asa, kalah, melepas
hak dan percaya. Dalam diri yang menyerah ada diri yang mati, tetapi Dia hidup,
dan bekerja. Dia mengalami hidupNya sendiri dalam aku. Yang terjadilah adalah
kehendakNya.
Pada diri yang menyerah, ada pengertian bahwa bukan diri yang hidup
melainkan Dia yang hidup, Dia yang memampukan, Dia kekuatan, diri lenyap. Saat
diri berhenti, Dia yang hidup menyatakan
secara nyata. Diri selalu sibuk : sibuk melayani, sibuk bekerja, sibuk
membuktikan diri, sibuk mencari pengakuan, sibuk mengatur, sibuk mengeluh, sibuk
merasa tidak dihargai, sibuk membandingkan. Banyak perkara, banyak kekuatiran,
banyak kesusahan, tetapi bukan itu yang perlu. Yang perlu hanyalah satu: hadir
dan tinggal dalam ruang hadirat-Nya. Bukan berarti tidak melayani, bukan
berarti tidak bekerja, bukan berarti tidak bertindak, tetapi melayani dari
tempat yang benar, bekerja dari ruang yang benar, bertindak dari diri yang
telah diserahkan, bukan dari kekuatiran, bukan dari tuntutan, bukan dari diri
yang ingin diakui. Bukan karena lebih suci, bukan karena lebih rajin, dan bukan karena lebih hebat. Tetapi
karena kita memilih untuk mendengar, dan
tinggal, kita memilih Dia. Maka jangan
sibuk dengan banyak perkara, jangan kuatir, jangan menyusahkan diri, pilih satu saja. Hadir dan tinggal.
Dan dari tempat itu, segala sesuatu mengalir, bukan aku yang hidup, Dia yang hidup. Engkau akan hidup jika mengasihi sesama dan Tuhan. Kasih tidak bertanya siapa layak, kasih tidak menunda, menghitung, memilih. kasih itu tindakan nyata. Sesama bukan yang sekeluarga, seiman, sekelompok. Sesama adalah yang tidak terpisah bahkan musuh, yang tidak membalas kebaikan. Dalam melayani sesama yang tidak terpisah berarti melayani Dia yang hidup.
Pada diri yang belum diserahkan belum berbuat kasih untuk dirinya, diri
yang sudah siserahkan akan memperoleh hidup yang kekal. Yohanes bersaksi
tentang hidup yang kekal : Inilah hidup
yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang
benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" .
Viat Voluntas Tua, terima kasih, Berkah Dalem.
Foto : Frater Kefas Raditya SJ
Foto : Mas Y. Setyo Yuntoro
F
Kegiatan Terbaru Lainnya
Dari Api Unggun Menuju Pertobatan: Camping Rohani OMK dan PIR Lingkungan St. Paulus Temanggal II Menjadi Ruang Aman Kaum Muda Menemukan Harapan
28 Jun 2026
Lingkungan St. Paulus Temanggal II: Ruang Bertumbuh dan Berbagi
07 Jun 2026
Ziarek Gratis
24 Mei 2026