Lingkungan St. Skolastika Karangmojo

YANG TERCECER DARI KEGIATAN BKSN 2026 : BELAJAR DARI KERASULAN MATEUS

Gereja St. Ignatius Loyola

Mulai Minggu, 11 Oktober 2026
Pukul 15:28 WIB

Minggu 26 September 2026 sebanyak 33 umat lingkungan St. Skolastika Karangmojo melaksanakan kegiatan BKSN di di Rumah Studi SMA Kolese De Brito yang berlokasi Turi, Sleman. Kegiatan ini merupakan rangkaian pertemuan BKSN minggu ke III dan ke IV, yang dilaksanakan dari jam 09.00 s/d jam 15.00 wib. Umat berangkat bersama-sama menggunakan 6 kendaraan pada pukul 07.45 wib dan tiba di lokasi pada jam 09.00 WIB.

Pada pertemuan sesi I (09.30 s/d 11.45 wib) umat didampingi oleh Frater Kefas Raditya SJ (dari Kolosani). Mengingat pada 4  (empat) pertemuan BKSN tahun ini kita mengambil sumber dari Injil Mateus, oleh karenanya Frater Kefas memaparkan pemuridan Mateus (penulis Injil dan salah satu murid Yesus). Mateus Adalah seorang pemungut cukai/pajak di Kapernaum (tentu saja seorang yang  terpelajar pada jaman itu) dan bekerja untuk pemerintah Romawi atau Raja Herodes Antipas. Sebagai pemungut pajak, Mateus  dibenci oleh bangsa Yahudi dan dianggap sebagai pengkhianat serta orang berdosa, tetapi Yesus memanggilnya seperti pada kutipan ini :  

 

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)   

 

Mateus dipanggil sebagai murid adalah inisiatif Yesus, kemudian Matius mengikuti Dia, tinggal bersama, belajar mendengarkan, saksi mata atas pelayanan, kebangkitan, hingga kenaikan Yesus, dan pada akhirnya diutus. Mateus menulis Injil dan memberitakan kesaksian bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.

Mengambil contoh dari pemuridan Mateus, ada 2 (dua) pertanyaan bagi kita semua yang telah dibabtis dipanggil Yesus untuk menjadi muridnya. Pertama, apakah kita tinggal bersama Yesus dan belajar mendengarkan Dia? Kedua, apakah kita yang diutus sudah menjadi saksi dalam hidup kita sehari hari ?


Pada pertemuan sesi II (setelah makan siang) permenungan diisi dengan sharing iman oleh umat, terutama menyangkut tinggal dalam Yesus. Sharing dipimpin oleh Mas Y. Setyo Yuntoro. Tinggal dalam Dia berarti penyerahan diri, diri (keakuan) ditinggalkan dan menjadi seperti anak kecil yang tergantung dan percaya. Damai sukacita bukan karena  melihat mukjizat, bukan karena mempunyai kekayaan, berhasil,  berkuasa namun karena tinggal dalam Dia yang hidup.

Mengikuti Yesus berarti diri yang diserahkan, hidup tanpa diri, hidup tanpa tempat bersandar di dunia, bukan mencari nyaman, aman. Diri selalu ingin benar, menjelaskan, membela diri, menuntut, berbantah, memahami semua, ingin diperlakukan baik. Diri yang telah memilih diserahkan dan  menyerah bukan berarti putus asa, kalah, melepas hak dan percaya. Dalam diri yang menyerah ada diri yang mati, tetapi Dia hidup, dan bekerja. Dia mengalami hidupNya sendiri dalam aku. Yang terjadilah adalah kehendakNya.

Pada diri yang menyerah, ada pengertian bahwa bukan diri yang hidup melainkan Dia yang hidup, Dia yang memampukan, Dia kekuatan, diri lenyap. Saat diri berhenti, Dia yang hidup menyatakan  secara nyata. Diri selalu sibuk : sibuk melayani, sibuk bekerja, sibuk membuktikan diri, sibuk mencari pengakuan, sibuk mengatur, sibuk mengeluh, sibuk merasa tidak dihargai, sibuk membandingkan. Banyak perkara, banyak kekuatiran, banyak kesusahan, tetapi bukan itu yang perlu. Yang perlu hanyalah satu: hadir dan tinggal dalam ruang hadirat-Nya. Bukan berarti tidak melayani, bukan berarti tidak bekerja, bukan berarti tidak bertindak, tetapi melayani dari tempat yang benar, bekerja dari ruang yang benar, bertindak dari diri yang telah diserahkan, bukan dari kekuatiran, bukan dari tuntutan, bukan dari diri yang ingin diakui. Bukan karena lebih suci, bukan karena  lebih rajin, dan bukan karena lebih hebat. Tetapi karena kita  memilih untuk mendengar, dan tinggal, kita  memilih Dia. Maka jangan sibuk dengan banyak perkara, jangan kuatir, jangan menyusahkan diri, pilih  satu saja. Hadir dan tinggal.

Dan dari tempat itu, segala sesuatu mengalir, bukan aku yang hidup, Dia yang hidup. Engkau akan hidup jika mengasihi sesama dan Tuhan.  Kasih tidak bertanya siapa layak, kasih tidak menunda, menghitung, memilih. kasih itu tindakan nyata. Sesama bukan yang sekeluarga, seiman, sekelompok. Sesama adalah yang tidak terpisah bahkan musuh, yang tidak membalas  kebaikan. Dalam melayani sesama yang tidak terpisah berarti melayani Dia yang hidup.


Pada diri yang belum diserahkan belum berbuat kasih untuk dirinya, diri yang sudah siserahkan akan memperoleh hidup yang kekal. Yohanes bersaksi tentang hidup yang kekal :  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" .

Viat Voluntas Tua, terima kasih, Berkah Dalem. 


Foto : Frater Kefas Raditya SJ


Foto : Mas Y. Setyo Yuntoro 


Foto : Bahagia umat lingkungan St. Skolastika, Fiat Voluntas Tua. 

F